Kamis, 03 April 2014

Artikelku



     Aplikasi Stoikiometri

Dede Novianda
Purwanto
Aditya Argasiwi

      Difinisi Stoikiometri
Stoikiometri ialah suatu ilmu kimia yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif antara pereaksi/reaktan dan hasil dari suatu reaksi kimia.Stoikiometri sendiri diambil dari bahasa Yunani yaitu stoikheion yang mempunyai arti unsur dan metria yang berarti ukuran.
Pada Stoikiometri ini terdapat 3 hukum dasar yang sangat erat kaitannya dengan Stoikiometri itu sendiri, 3 hukum tersebut ialah : a. Hukum Perbandingan Berganda atau disebut juga Hukum Dalton, b. Hukum Perbandingan Tetap atau Hukum Proust, c. Hukum Kekekalan Massa atau Hukum Lavoisier.
    
Dasar-dasar hukum pada Stoikiometri

1.  Hukum Perbandingan Berganda
Dalam suatu pengamatan yang dilakukan oleh Kimiawan asal Inggris yaitu John Dalton,yaitu pengamatan molekul pada beberapa senyawa yang memiliki kesamaan pada atom-atom penyusunnya.Dari itulah Dalton menyimpulkan,terjadinya dua macam unsur yang membentuk dua senyawa atau lebih,dimana unsur pertama memiliki massa yang sama,maka pada unsur kedua dalam senyawa-senyawa tersebut memiliki perbandingan sebagai bilangan bulat dan sederhana.
Sebagai contoh pada senyawa terdapat CO terdapat 1 atom C dan 1 atom O, sedangkan untuk CO2 terdapat 1 atom C dan terdapat 2 atom O.Pada massa atom C adalah 12 gram dan atom O adalah 16 gram, karena kedua senyawa terdapat 1 atom C dengan 12 gram, maka perbandingan massa atom O pada senyawa pertama dan kedua adalah 16 gram dan 32 gram, atau 1:2.

2.  Hukum Perbandingan Tetap
Hukum perbandingan tetap atau bisa juga disebut hokum proust,dimana proust itu sendiri diambil dari nama seorang kimiawan asal Perancis yaitu Joseph Proust. Hukum itu berbunyi bahwa dalam suatu unsur senyawa kimia itu terdiri dari unsur-unsur dengan perbandingan massa yang selalu sama.
Contoh Soal :
Tentukan perbandingan massa nitrogen dan oksigen dalam NO2 jika diketahui Ar.N = 14 dan Ar.O=16
Pembahasan
Perbandingan massa dalam NO2 dapat ditentukan dengan persamaan yang telah diberikan di atas,massa N : massa O = jumlah atom N x Ar.N : jumlah atom O x Ar.O
= 1 x 14 : 2 x 16
= 14 : 32
= 7 : 16

3.  Hukum Kekekalan Massa
Hukum kekekalan massa atau bisa disebut hokum Lomonosov-Laviosier(kali ini saya tidak tahu ini kimiawan dari mana,hehehehe. . . .).Hukum kekekalan itu sendiri berbunyi hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan atau tetap meskipun terjadi berbagai macam proses di dalamnya, atau yang lebih familiar adalah massa dapat berubah bentuk tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.Dan pernyataan tersebut sama halnya pada hukum kekekalan energi.
Sebagai contoh hukum kekekalan energi itu sendiri ialah,perubahan energi kinetik menjadi energi listrik, yaitu dapat kita lihat pada khidupan sehari-hari pada konsep PLTA(Pembangkit Listrik Tenaga Air). Dimana kita ketahui air mengalir dan dapat menggerakkan sebuah generator atau yang sering kita ketahui adalah kincir air pada aplikasi PLTA sederhana di pedalaman di suatu pedesaan.Dari gerakan generator itu lah yang dikonversi menjadi energi listrik.

      Penerapan stoikiometri dalam pengukuran kuantitatif

Stoikiometri Reaksi, telah di ketahui bahwa dalam reaksi kimia itu menyatakan jumlah atom atau molekul yang ikut terlibat, dan banyaknya atom itu sendiri dapat dihitung dalam persamaan kimia yang ditunjukkan oleh koefisien reaksinya.
Seperti yang ada pada tetapan Avogadro, jika nilai n = 6.022 x 10²³, maka n molekul sama dengan satu mol.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koefisien reaksi pada persamaan kimia menunjukkan perbandingan jumlah mol zat-zat yang bereaksi dan zat pereaksinya, atau yang lebih dikenal dengan nisbah stoikiometri atau NS.

Stoikiometri Larutan, ada beberapa hasil dari suatu reksi kimia yang berbentuk larutan. Solvent ialah suatu komponen pelarut yang menentukan apakah pelarut dalam keadaaan padatan,cairan atau gas, sedangkan zat terlarut itu sendiri disebut Solute. Dan sangat beragam jumlah zat yang dapat dilarutkan suatu pelarut,oleh sebab itu kita harus mengetahui komposisi yang tepat, serta mengetahui suatu persen massa dan volume berdasarkan massa zat dan konsep molaritas untuk mengetahui konsentrasi suatu larutan.
Molaritas (M) adalah salah satu ukuran konsentrasi larutan, molaritas pada suatu larutan menyatakan jumlah mol suatu zat per liter larutan. Misalnya 1.0 liter larutan mengandung 0.5 mol senyawa X,maka larutan ini disebut 0.5 molar (M). Terdapat juga kelebihan serta kerugian pada penggunaan satuan molar,kelebihannya ialah kemudahan dalam perhitungan dalam stoikiometri karena konsentrasi  dinyatakan dalam jumlah mol(sebanding dengan jumlah partikel yang sebenarnya), kerugiannya menggunakan satuan mol ini pada ketidaktepatan dalam pengukuran volume,karena volume suatu cairan berubah sesuai temperatur,sehingga molaritas larutan dapat berubah tanpa menambahkan atau mengurangi zat apapun,dan volume merupakan fungsi dari konsentrasi sehingga  hubungan molaritas dengan konsentrasi tidak linier.

                  Stoikiometri Gas
Pada stoikiometri gas,terdapat hukum-hukum dasar yang menerangkan perilaku gas berdasrkan dasi suatu pengamatan,yaitu hukum Boyle, Hukum Gay Lussac dan hukum Charles.
Hukum Boyle itu berbunyi, jika suhu tetap, volume suatu gas yang massanya tertentu berbanding terbalik dengan tekanannya. Yang dapat dinyatakan dengan rumus.
P×V× =Py Vy atau V× / Vy = Py / V× Atau PV = tetapan (jika T dan jumlah partikel tetap)
Syarat berlakunya hukum Boyle adalah apabila gas berada dalam keadaan ideal (gas sempurna), yaitu gas yang terdiri dari satu atau lebih atom dan dianggap identik satu sama lain.
     Atas Perhatiannya, Terimakasih !!!!